Rahasia Menilai Harga Wajar Saham Lewat Price Earning Ratio

Rahasia Menilai Harga Wajar Saham Lewat Price Earning Ratio

Go Public Anak Usaha Wika
Go Public Anak Usaha Wika

Jadi berapa harga wajar saham untuk WIKA?

Wika adalah salah satu saham yang saya beli untuk memenuhi kolom aset saya. Ketika beli cuma 2 pertimbangan waktu itu. Harganya sedang turun sama seperti 1 tahun lalu ketika saya jual serta Indonesia sedang maju untuk pembangunan infrastruktur jadi kemungkinan WIKA akan ikut terdongkrak naik.

Dari pertimbangan itulah saya memutuskan untuk membeli WIKA. Saya menunggu untuk harga tersebut turun dibatas yang saya mau beli dan akhirnya GOL.
Pada tanggal 5/12/2015 saya membeli di harga 3,100. Sebulan kemudian harga saham ternyata turun lagi.
Pada tanggal 6/11/2015 saya beli lagi di harga 2,770. Mumpung masih discount. Lima hari kemudian harga kembali drop ke 2,620.

Nah, disaat inilah saya berpikir, Sebenarnya berapa sih harga wajar (Intrinsic Value) dari saham WIKA.

Saat membaca buku Stock analysis, ternyata satu hal yang harus dicari tahu adalah PER dari sebuah perusahaan. PER? Pegas? bukan. Ternyata PER adalah Price (Harga Saham) dibandingkan dengan Earning(Laba Bersih). Price Earning Ratio.

Jadi misal, Sebuah perusahaan memiliki keuntungan di tahun itu sebesar 1 Juta rupiah, dimana jumlah lembar saham yang sedang ada di pasaran adalah sejumlah 1 juta lembar. Maka Keuntungan perusahaan tersebut dari setiap lembarnya adalah sebesar 1 rupiah (Earning per Share) . Nah, inilah EARNING yang akan digunakan sebagai perbandingan nanti.

Sekarang kita lihat harga sahamnya. Harga saham itu di nilai berdasarkan harga yang sedang diperjual belikan dipasar saham. Harga tersebut adalah harga 1 lembar saham. Maka itu untuk PER kita menghitung harga jual/beli perlembar saham dibandingkan dengan Laba bersih perlembar saham juga.

Contoh A:

Misal harga 1 lembar senilai Rp. 20 perlembar saham, lalu keuntungan perusahaan per 1 lembar senilai Rp. 1. Maka PERnya adalah 20.

Contoh B:

Misal harga 1 lembar senilai Rp. 40 per lembar saham, lalu keuntungan perusahaan per 1 lembar senilai Rp. 1. Maka PERnya adalah 40.

Beberapa investor mengacu pada kebalikannya dengan sebutan Earning Yield yaitu keuntungan 1 lembar saham dibagi harga jual/beli saham saat itu.

Jadi kalau mengacu kepada:

Contoh A maka Earning Yield adalah 1/20 atau 0.05 atau 5%

Contoh B maka Earning Yield adalah 1/40 atau 0.025 atau 2,5%

jadi misal seluruh keuntungan perusahaan dibagikan kepada semua yang punya saham itu, maka keuntungan saham tersebut ketika harga 20 adalah 5% keuntungan, kalau harga 40 maka turun jadi sisa 2.5% saja.

Konsep Earning Yield ini sangat membantu ketika membandingkan investment opportunity yang ada.

Misal: sebuah perusahaan harganya dijual 10 kali laba perlembar saham maka Earning Yieldnya adalah 10%. Dibandingkan dengan Obligasi 10 tahun dengan bunga 5% maka keuntungannya adalah 2 kali lipatnya.

Misal nilai Obligasi hari ini senilai 1000, maka obligasi itu memberika hasil 50 pertahun dan akan dikembalikan lagi pokoknya yang 1000 itu ketika genap 10 tahun. tapi karena ada inflasi, misal 3% setahun, maka nilai uang itu hanya menjadi 737 kalo dilihat dari uang hari ini alias berkurang nilainya.

Nah, kalo beli saham 10x dari labanya (atau bunga 10%) maka, keungannya secara teori adalah 2x lipatnya. Tapi kebanyakan perusahaan, keuntungannya dibagikan sebagian saja kepada pemegang saham, selebihnya di puter lagi di bisnisnya biar bisa tumbuh lagi. Nah, belum lagi inflasi yang terjadi biasanya dikenakan ke customer dari perusahaan itu. Misal harga jual di Rp. 100 tahun lalu, maka perusahaan bisa naikan harga jual jadi Rp. 103.

Nah untuk harga sahamnya sendiri, misal kita beli saham dengan keuntungannya Rp. 1 dengan harga saham waktu beli di Rp. 10, maka dengan inflasi keuntungan setelah 10 tahun adalah Rp. 1.34. Atau secara P/E ratio, nilai sahamnya menjadi Rp. 13.40.

Keuntungan perusahaan secara ekonomi tumbuh sesuai dengan inflasi yang ada, sjarah mencatat 3% di amerika. Nah kalo dipikir2, inflasi ditambah dengan pertumbuhan ekonomi lainya bisa dibilang keuntungan Rp. 1 tadi akan tumbuh 6% pertahun. Artinya keuntungan per lembar saham menjadi Rp. 1.79 dalam 10 tahun. Uang 1000 yang diinvest dengan PE ratio yang sama maka dalam 10 tahun uangnya menjadi 1739.

 

NAh jadi berapa PER dari wika ini seharusnya?

Besok Lanjut lagi ya…

mento
Posted on:
Post author

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *